Debat Kerajaan Batak: Membaca Ulang Sejarah Di Luar Sisingamangaraja XII

Dr. Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari - Jambi, Pengamat Sosial dan Pengamat Habatahon.

Jambi, MH - Selama ini, ketika publik berbicara tentang Kerajaan Batak, satu nama hampir selalu muncul di garis terdepan: Sisingamangaraja XII. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan Batak terhadap kolonialisme Belanda, sekaligus figur yang secara tidak langsung mewakili gagasan tentang adanya satu Kerajaan Batak yang terpusat. 

Namun, apakah sejarah Batak memang sesederhana itu? Artikel ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang asumsi tersebut dan menelusuri kemungkinan bahwa struktur politik Batak jauh lebih kompleks, tua, dan beragam daripada yang selama ini dipahami secara populer.

Mitos Kerajaan Batak Tunggal.

Dalam narasi sejarah arus utama, Kerajaan Batak sering dipersepsikan sebagai entitas tunggal yang puncaknya berada pada masa Sisingamangaraja XII. Akibatnya, periode sebelum abad ke-19 kerap diperlakukan sebagai ruang kosong-seolah masyarakat Batak hidup tanpa sistem politik yang jelas.

Baca: Jambi24jam.com&Sumatera24jam.com

Padahal, pendekatan semacam ini lebih mencerminkan keterbatasan sumber tertulis kolonial dari pada realitas sejarah itu sendiri. Sejarah Batak tidak hanya hidup dalam arsip Belanda, tetapi juga dalam struktur adat, bahasa, dan tradisi lisan yang diwariskan lintas generasi.

Jejak Struktur Politik Proto-Batak

Temuan arkeologis dan catatan awal para penjelajah menunjukkan bahwa kawasan Batak telah lama dihuni oleh komunitas yang terorganisasi. Keberadaan Huta, sistem bius, serta peran Raja Huta menandakan adanya pembagian kekuasaan dan wilayah yang relatif stabil.

Struktur ini memang berbeda dari konsep kerajaan sentralistik ala Eropa. Namun, perbedaan tersebut tidak otomatis berarti ketiadaan negara atau pemerintahan. Sebaliknya, ia menunjukkan model politik lokal yang disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, dan kosmologis masyarakat Batak.

Tradisi Lisan dan Ingatan yang Terpinggirkan

Salah satu sumber sejarah Batak yang paling kaya justru sering dipandang sebelah mata: tradisi lisan. Melalui tarombo dan cerita turun-temurun, masyarakat Batak menyimpan ingatan tentang tokoh-tokoh pemimpin, pendiri wilayah, serta konflik dan aliansi antar-kelompok.

Narasi-narasi ini tidak selalu selaras dengan kronologi sejarah kolonial. Namun, ketidaksesuaiannya justru membuka ruang interpretasi baru. Tradisi lisan memperlihatkan bahwa kekuasaan di Tanah Batak pernah bersifat majemuk-tersebar pada banyak pusat, bukan terkonsentrasi pada satu garis dinasti saja.

Bahasa dan Budaya sebagai Petunjuk Sejarah

Keberagaman subkelompok Batak-Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing-menyuguhkan bukti tambahan. Perbedaan bahasa, adat, dan struktur sosial di antara mereka sulit dijelaskan jika Batak pernah berada di bawah satu kerajaan tunggal yang homogen.

Sebaliknya, variasi ini lebih masuk akal bila dipahami sebagai hasil perkembangan sejarah yang relatif mandiri. Masing-masing kelompok kemungkinan memiliki entitas politik sendiri, yang berinteraksi satu sama lain dalam jaringan kekuasaan yang dinamis.

Menuju Pemahaman Sejarah yang Lebih Bernuansa

Dengan menggabungkan bukti arkeologis, tradisi lisan, dan analisis linguistik, muncul gambaran sejarah Batak yang lebih kompleks. Alih-alih satu Kerajaan Batak yang monolitik, kemungkinan besar pernah ada jaringan kerajaan kecil, federasi adat, atau wilayah semi-independen yang silih berganti berpengaruh.

Dalam kerangka ini, Sisingamangaraja XII tidak kehilangan maknanya. Ia justru tampil sebagai figur penting dalam satu fase krusial sejarah Batak-bukan sebagai satu-satunya representasi masa lalu Batak secara keseluruhan.

Penutup

Membaca ulang sejarah Batak bukan berarti meniadakan tokoh besar atau meruntuhkan kebanggaan kolektif. Sebaliknya, upaya ini justru memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat Batak sebagai komunitas yang memiliki sejarah panjang, berlapis, dan penuh dinamika.Sejarah, seperti identitas, jarang bersifat tunggal. Dan mungkin, disitulah letak kekuatannya. (Penulis: Dr. Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari, Jambi, Pengamat Sosial, dan Pengamat Habatahon).


Saksikan versi Youtube dari artikel ini di akun PUSTAHANTA dengan judul: Membongkar Posisi Sisingamangaraja XII dalam Kerajaan Batak.



BERITA LAINNYA

Posting Komentar

0 Komentar