Krisis Negarawan Batak: Membedah Logika Kritik Dan Masa Depan Kepemimpinan Batak

Dr. Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari (Unbari) - Jambi dan Pemerhati Sosial.

Premis Masalah

Jambi, MH - "Horas! Rekan-rekan semua. Di awal tahun 2026 ini, kita melihat sebuah fenomena menarik sekaligus memprihatinkan dalam lanskap politik nasional. Tokoh Batak di pemerintahan semakin kurang populer, namun yang menarik, ketika ada satu tokoh yang muncul dengan gagasan konstruktif dan lintas batas seperti Maruarar Sirait, ia justru dihujat oleh 'orang rumahnya' sendiri.

Mengapa masyarakat Batak begitu keras terhadap Maruarar? Apakah ini bentuk demokrasi yang sehat, atau kita sedang mengalami krisis apresiasi terhadap gagasan yang bersifat kenegaraan?"

Studi Kasus - Dana Natal untuk Palestina

"Mari kita bedah studi kasus terbaru. Gagasan Maruarar Sirait untuk menyumbangkan dana persembahan Natal Nasional kepada rakyat Palestina memicu gelombang kritik hebat di kalangan Batak Kristiani. Banyak yang menghujat, menganggap bantuan itu salah sasaran atau tidak proporsional.

Baca: Jambi24jam.com&Sumatera24jam.com

Namun, mari kita jujur. Bukankah apa yang dilakukan Maruarar Sirait adalah refleksi dari kasih yang universal? Ia sedang menunjukkan bahwa komunitas Batak dan Kristiani Indonesia adalah komunitas yang inklusif. Ia memberikan sumbangan pribadi sebesar 11 miliar rupiah, jauh melampaui apa yang dikritikkan orang padanya. Di sini kita melihat benturan antara cara berpikir sektoral (mengutamakan kelompok sendiri) melawan cara berpikir negarawan (kemanusiaan tanpa batas).

Psikologi Cara Berpikir Batak

"Untuk memahami ini, kita harus tahu cara berpikir orang Batak. Secara sosiologis, orang Batak itu egaliter. Tidak ada bos di mata orang Batak; semua merasa punya hak untuk bicara. Kritik keras adalah bentuk kontrol sosial.

Namun, ada sisi gelapnya: Seringkali kita terlalu sibuk menarik kaki orang yang sedang memanjat ke atas. 

Ketika seorang tokoh Batak mencoba keluar dari pola lama dan membangun narasi nasionalis yang kuat, ia justru dianggap meninggalkan identitas aslinya. Inilah yang terjadi pada Ara. Ia dikritik bukan karena kinerjanya buruk-sebagai Menteri Perumahan ia sangat aktif-tapi karena ia berani berbeda dalam cara berbagi kasih."

Krisis Negarawan Batak & Perbandingan Tokoh

Kita harus prihatin. Di tahun 2026 ini, siapa lagi tokoh Batak yang benar-benar membawa gagasan konstruktif untuk bangsa? Kita lama mengandalkan sosok seperti Luhut Binsar Pandjaitan. Namun, publik mulai melihat pola yang berbeda. 

Jika Ara terlihat mencoba membangun warisan kemanusiaan dan kebijakan publik yang menyentuh rakyat kecil, sosok senior seperti Luhut seringkali dinilai lebih praktis dan pragmatis. Banyak yang melihat keterlibatannya dalam kebijakan strategis lebih kental dengan kepentingan stabilitas ekonomi yang terkadang bersinggungan dengan kepentingan bisnis besar.

Jika kita terus menghujat sosok seperti Maruarar yang mencoba menawarkan alternatif kepemimpinan yang lebih berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, jangan heran jika kedepannya tidak ada lagi anak muda Batak yang berani muncul dengan gagasan besar. Kita akan terjebak dalam krisis kepemimpinan di mana tokoh kita hanya menjadi teknokrat praktis, bukan negarawan inspiratif."

Penutup - Pesan Moral

"Mengkritik itu perlu, tapi menghujat niat baik adalah kerugian bagi kita semua. Maruarar Sirait sedang menjalankan tugasnya di kementerian yang sangat berat. Dukungan konstruktif dari masyarakat Batak sendiri akan menjadi modal besar baginya untuk membuktikan bahwa putra Batak bisa menjadi solusi bagi perumahan rakyat dan simbol toleransi dunia.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi pengkritik yang destruktif dan mulai menjadi pendukung bagi gagasan-gagasan yang membangun. Bagaimana menurut kalian? Tulis di kolom komentar. Horas!"

Topik ini juga akan muncul di channel Pustahanta Youtube. Silakan tunggu penayangannya.

Disklaimer: Penulis tidak memiliki hubungan apapun dengan Maruarar Sirait baik hubungan keluarga, politik, maupun bisnis. Artikel ini murni untuk sebuah analisis. (oleh Dr Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari - Jambi dan Pemerhati Sosial).


BERITA LAINNYA

Posting Komentar

0 Komentar