| Dr Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari (Unbari) Jambi, Pengamat Sosial dan Pemerhati Budaya Batak). |
Data
yang Mengkhawatirkan: Bahasa Daerah di Indonesia
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara
dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Namun, keragaman ini sedang berada
dalam tekanan serius. Menurut UNESCO, lebih dari 40 persen bahasa di dunia
berada dalam kondisi terancam punah. Indonesia termasuk wilayah dengan risiko
tinggi karena banyak bahasa daerah mengalami penurunan jumlah penutur aktif.
Sementara itu, data Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa menunjukkan bahwa dari lebih dari 700 bahasa daerah di
Indonesia, puluhan di antaranya sudah berada dalam status rentan hingga kritis.
Bahasa Batak memang belum masuk kategori punah. Namun indikator awal yang lebih
penting sudah terlihat: penurunan penggunaan aktif di kalangan generasi muda,
terutama di wilayah urban dan diaspora.
Dari
Bahasa Hidup Menjadi Bahasa Pasif
Dalam kerangka Sosiolinguistik, kondisi ini
dikenal sebagai language shift.
Joshua Fishman (seorang ahli sosiolinguistik)
menegaskan bahwa tanda awal kepunahan bahasa bukan hilangnya jumlah penutur
secara drastis, tetapi berubahnya fungsi bahasa-dari yang aktif digunakan
menjadi sekadar dipahami. Itulah yang kini mulai terjadi pada bahasa Batak.
Banyak generasi muda Batak:
- Mengerti percakapan orang tua
- Tetapi tidak mampu merespons dengan
struktur yang tepat
- Menggunakan campuran bahasa
(Batak-Indonesia-Inggris)
- Menghindari bentuk bahasa adat yang
kompleks
Ini bukan sekadar “tidak fasih”. Ini adalah
pemutusan transmisi budaya.
Disrupsi
Digital: Bahasa Dipaksa Menjadi Cepat
Transformasi ini tidak bisa dilepaskan dari
logika dunia digital. Platform seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok tidak
netral. Ia membentuk cara manusia berpikir dan berbahasa.
Manuel Castells (seorang sociolog) menyebut
masyarakat modern sebagai network society, di mana kecepatan menjadi
nilai utama dalam interaksi sosial.
Dalam sistem ini:
- Kalimat panjang dianggap tidak efisien
- Struktur kompleks dianggap menghambat
- Kedalaman makna kalah oleh kecepatan
respons
Bahasa Batak-yang sarat dengan struktur sosial,
ritme, dan filosofi-tidak kompatibel dengan logika ini. Akibatnya, bahasa tidak
lagi disederhanakan secara alami, tetapi dipaksa untuk menyesuaikan diri.
Erosi
Makna: Yang Hilang Bukan Kata, Tapi Nilai
Masalah utama bukan pada perubahan bentuk bahasa,
melainkan pada hilangnya fungsi kulturalnya. Pierre Bourdieu (seorang sosiolog
yang banyak mengkaji bahasa dari perspektif sosiologi) menjelaskan bahwa bahasa
adalah alat kekuasaan simbolik (symbolic power). Ia menentukan relasi
sosial, penghormatan, dan posisi individu dalam struktur budaya.
Dalam konteks Batak:
- Sapaan mencerminkan hierarki kekerabatan
- Pilihan kata mencerminkan penghormatan
- Struktur kalimat mencerminkan etika
Ketika bahasa dipersingkat menjadi sekadar
alat komunikasi cepat, maka sistem nilai ini ikut tergerus.Yang hilang bukan
hanya kata-tetapi cara berpikir.
Paradoks
Identitas Digital
Di sisi lain, identitas Batak justru semakin
kuat secara global. Komunitas diaspora Batak berkembang pesat di ruang digital.
Grup Facebook, komunitas WhatsApp, hingga konten TikTok memperluas rasa
kebersamaan lintas negara.
Namun, seperti dikatakan Benedict Anderson
(seorang ilmuan politik), identitas modern sering kali bersifat imajiner-dibangun
melalui simbol, bukan praktik nyata. Seseorang dapat merasa Batak tanpa harus
berbahasa Batak.
Yang sedang terbentuk adalah varian baru-yang
bisa disebut sebagai “Batak digital”:
- lebih cepat
- lebih ringkas
- lebih fleksibel
- tetapi lebih dangkal secara struktur
Pertanyaannya bukan lagi apakah ini salah atau
benar.
Jika bahasa kehilangan kedalaman filosofisnya,
maka yang tersisa hanyalah identitas permukaan-etnis tanpa substansi.
Titik
Kritis: Generasi Penentu
Sejarah menunjukkan bahwa kepunahan bahasa tidak
terjadi secara tiba-tiba. Ia terjadi dalam dua hingga tiga generasi-dimulai
dari generasi yang masih memahami, tetapi tidak lagi menuturkan.
Bahasa Batak hari ini berada tepat di fase
itu.
Jika generasi sekarang tidak lagi menggunakan
bahasa Batak secara aktif dalam:
- keluarga
- percakapan sehari-hari
- ruang digital
maka dalam satu generasi ke depan, bahasa ini
berisiko menjadi simbol-bukan praktik.
Penutup:
Pilihan yang Tidak Netral
Sering kali perubahan ini dianggap sebagai
sesuatu yang “alami”. Padahal, ia adalah hasil dari pilihan-baik sadar maupun
tidak.
Memilih menggunakan bahasa Indonesia atau
campuran di ruang digital adalah keputusan praktis. Namun jika dilakukan
terus-menerus, ia menjadi keputusan kultural.
Bahasa Batak tidak akan hilang karena
teknologi. Ia akan hilang karena tidak lagi digunakan. Seperti diingatkan
Fishman, masa depan bahasa ditentukan bukan oleh arsip, tetapi oleh praktik.
Hari ini, bahasa Batak tidak sedang menunggu untuk diselamatkan. Ia sedang menunggu untuk digunakan. Dan itu adalah keputusan yang hanya bisa diambil oleh para penuturnya sendiri. (Dr Jonner Simarmata, MM Dosen Universitas Batanghari (Unbari) Jambi, Pengamat Sosial dan Pemerhati Budaya Batak).
0 Komentar