Pria Kelahiran Samosir Pecah Bintang Dari Prajurit, Guru Tempur, Dan Pena Yang Tajam


Jakarta, MH - Dari Pulau Samosir, lahir seorang anak pada 21 Februari 1972. Namanya Polsan Situmorang. Tak ada yang menyangka anak Danau Toba itu kelak akan menulis tesis di New Delhi, memimpin latihan tempur di Baturaja, dan menyandang bintang satu di pundak.

Semangatnya ditempa sejak muda. Di Akademi Militer 1996, ia bukan hanya lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ia juga terpilih menjadi Komandan Kompi Korps Taruna. Disiplin dan keteladanan sudah terlihat sejak ia masih mengenakan baret taruna.

Lulus Akmil, langkahnya tidak berhenti di barak. Ia ditugaskan di satuan-satuan elit: Brigif 1 Jaya Sakti Jakarta, Brigif 19 Katulistiwa di Kalimantan, dan Brigif 25 Toramo di Papua. Dari kota ke rimba, dari dataran ke perbatasan, ia belajar bahwa prajurit sejati harus mengenal seluruh wajah Indonesia.

Karier komando pertamanya terukir sebagai Danyonif 756/Wimane Sili tahun 2012-2013. Di tanah keras, ia memimpin dengan wibawa. Setelah itu ia dipercaya menjadi Dandim 0823/Situbondo, Kodam V/Brawijaya pada 2014-2015.

Jabatan demi jabatan ia jalani: Asops Kasdivif 2 Kostrad, Kabintaljarahdam XVII/Cenderawasih, Ketua Tim Satgas Pamtas RI-RDTL, Sahli Pangdam I/BB bidang OMP, hingga Paban VIII Opslugri Sopsad.

Tahun 2024, Kolonel Inf. Polsan Situmorang menjabat Pabanopslat Sdirlat Kodiklatad. Setahun kemudian, ia pecah bintang. Promosi menjadi Brigadir Jenderal TNI dan dilantik sebagai Danpuslatpur Kodiklatad pada 28 November 2025, menggantikan Brigjen TNI Dany Rakca.

Markas Danpuslatpur ada di Baturaja, Sumatera Selatan. Tempat itu adalah jantung latihan tempur TNI AD. Di sanalah para prajurit diuji antar kecabangan, diuji taktik, diuji mental, sebelum turun ke medan sesungguhnya.

Sebagai Danpuslatpur, tanggung jawabnya besar. Ia memimpin penyelenggaraan latihan satuan, memberi dukungan latihan, menguji taktik dan teknik pertempuran, serta memelihara seluruh sarana prasarana latihan. Singkatnya, ia adalah “guru” bagi ribuan prajurit yang akan bertempur.

Namun Polsan bukan hanya prajurit lapangan. Ia juga seorang penulis. Dan di situlah ia berbeda. Sorotan nasional bahkan internasional datang saat ia menempuh pendidikan di National Defence College, New Delhi, India. Di penutupan pendidikan, ia meraih Book Prize Award.

Penghargaan itu bukan hadiah biasa. Ia diberikan untuk Research Thesis terbaik. Judulnya mengguncang: “The Impact Of China Economy Diplomacy On Indonesia". Tesis itu dibaca, didiskusikan, dan diakui. Karena di dalamnya ada analisis tajam seorang perwira tentang geopolitik, ekonomi, dan kedaulatan. Polsan membuktikan bahwa tentara tidak hanya pandai menembak, tetapi juga pandai berpikir.

Dari NDC ia juga pulang dengan gelar M.Phil bidang Defense and Strategic Studies dari University of Madras, India. Gelar akademik itu melengkapi jam terbangnya di lapangan. Ia juga menyandang gelar S.E. dan M.KP. Kombinasi ilmu militer, ekonomi, dan strategi membuat cara berpikirnya luas. Ia bisa bicara doktrin tempur pagi ini, dan sore menulis tentang diplomasi ekonomi.

Di tengah kesibukan, ia tetap rendah hati. Saat dia menghubungi, sapanya sederhana: “Horas lae, bagaimana kabar? Semoga sehat selalu. Ini saya, lae Brigjen Polsan Situmorang.”

Ia menikah dengan Jenni Florida Tambunan, lulusan Adventist University Filipina. Dari rumah tangganya lahir keseimbangan: keras di medan tugas, lembut di rumah. Orang mengenalnya sebagai perwira yang tegas tapi mau mendengar. Sebagai komandan yang mengerti bahwa prajurit kuat bukan hanya karena otot, tetapi karena wawasan.

Karena itu ia bertanya soal buku. “Lae, saya ada tulis buku. Kalau mau cetak di Kompas atau penerbit lain, ada link dan info mohon bantuan ya.” 

Kalimat itu menunjukkan ia tidak pernah berhenti belajar dan berbagi. Bagi Polsan, menulis adalah bagian dari pengabdian. Menulis adalah cara seorang prajurit meninggalkan jejak pemikiran, bukan hanya jejak sepatu lars di lumpur latihan.

Hari ini, sebagai Brigjen TNI Polsan Situmorang, ia berdiri di persimpangan dua dunia: dunia tempur dan dunia gagasan. Satu tangan memegang peta latihan, tangan lain memegang pena. 

Dari Samosir ke New Delhi, dari batalyon ke pusat latihan nasional, Polsan Situmorang membuktikan satu hal. Seorang prajurit sejati tidak hanya menjaga perbatasan negara dengan senjata, tetapi juga menjaga masa depan bangsa dengan pikiran. (MH/J24/S24/Fendi Sinabutar).


0 Komentar