Home » , , » Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Kisah Perjuangan Robinson Sinurat, Anak Petani Lulusan S2 Universitas Ternama di AS

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Kamis, 10 Januari 2019 | Januari 10, 2019

Robinson Sinurat bersama orang tuanya saat wisuda S2 di New York (Dok: Robinson Sinurat)

WASHINGTON, D.C, MH — Kisah perjuangan seorang anak dari keluarga petani asal Tanjung Beringin Provinsi  Sumatera Utara untuk meraih pendidikan S2 di Universitas bergengsi di Amerika Serikat merupakan bukti pencapaian sebuah impian.
Robinson Sinurat yang akrab dipanggil Obin dan mempunyai motto hidup  “Be honest. Be brave. Be willing.” (Jujur. Berani. Mau berjuang) ini, lulus dari Columbia University. Obin kini bekerja di lembaga Nirlaba Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist.
 “Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana?, karena jujur sama diri sendiri itu penting, ungkapnya.


Robinson Sinurat saat wisuda S2 
Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya. Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
“Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi motto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. Berhasil lulus dari Universitas prestisius, Columbia, di Kota New York, NY. Itulah moto hidup yang selalu ia tanamkan.
Gigih Berjuang Demi Pendidikan
Perjuangan gigih Obin untuk meraih pendidikan pun tidak lepas dari semangat orang tuanya yang adalah sebagai petani kopi dan sayur di Dusun III Sindoro Tanjung Beringin Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara. 

Sejak kecil Obin anak ke-5 (lima) dari 7 (tujuh) bersaudara terpaksa tinggal berjauhan dari orang tua di kota Medan, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Selama bersekolah pun Obin yang punya keinginan untuk bisa masuk ke sekolah bonafit seperti sekolah swasta berfasilitas lengkap, mengaku selalu terkendala masalah keuangan.

Mengingat orang tuanya sudah kehabisan biaya setelah menyekolahkan kakak-kakaknya. Namun, bagi Obin percaya bahwa rezeki masing-masing pasti berbeda. “Ketika giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP maupun mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan.


Saat di Malaysia  bersama Barack Obama
Jadi orang tua selalu bilang coba masuk sekolah ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” papar Obin saat dihubungi VOA Indonesia belum lama ini.
Selagi duduk di bangku SMP Negeri 30 Medan, ia juga sempat tinggal bersama dan mengurus adik-adiknya yang masih SD. Belajar, memasak, dan mencuci baju menjadi tugas hariannya. 

Hingga akhirnya orang tua Obin memutuskan untuk memindahkan adik-adiknya ke tempat kakaknya di pulau Jawa. Sementara Obin tetap sekolah di Medan. Alumni  SMA Negeri  15 Medan ini  lulus dengan nilai bagus.
Mengikuti pesan Bapak dan Mamak, begitu sapaan  Obin memanggil orang tuanya, ia selalu semangat untuk belajar hingga menjadi juara. Saat kelas III SMA, Bapak dan Mamak berpesan kepadanya.
“Kalo kamu enggak masuk negeri kuliahnya, kita enggak sanggup biayain. Jadi kamu harus masuk negeri. Kalau enggak ya belajar lagi setahun lagi,” kenangnya, menirukan ucapan Bapak dan Mamak.
Pesan itu menjadi semangat baru baginya untuk berjuang masuk ke Universitas Negeri. Ia mengikuti ujian melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan mendaftar ke Universitas Padjadjaran, Bandung dan Universitas Sriwijaya, Palembang.
Awalnya, ia mengira akan berakhir kuliah di daerah Bandung. Namun, akhirnya ia diterima di Universitas Sriwijaya  Palembang, jurusan Fisika, jurusan yang bukan ia inginkan.
“Menurut aku pribadi bukan masalah apa pun jurusannya, tapi pola pikirnya, mindset kita itu gimana ketika kita kuliah, jauh dari orang tua juga. Jadi OK ambil ajalah, yang pasti masuk Perguruan Tinggi Negeri, orang tua sanggup membayar,” kata pria Parsumbul ini.
Namun, saat sudah diterima, Obin kembali dihadapi kendala biaya. Orang tua Obin mengatakan tidak ada biaya dan menganjurkannya untuk mencoba lagi tahun depan.


Bersama orang tua di depan Gedung Putih AS.
Mengingat banyak anak-anak Indonesia yang bercita-cita masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tetapi tidak lolos, Obin menganggap ini merupakan kesempatan berhagara baginya.
Ia pun memutuskan untuk meminjam uang Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah ribuh rupiah) ke teman dekatnya, untuk membayar uang pendaftaran sekitar 2,4 juta rupiah dan tiket naik bis dari Bandung ke Palembang.
Awal Baru di Kampus Sriwijaya
Setibanya ia di kampus Universitas Sriwijaya, ia pun harus memikirkan cara untuk membayar uang kos dengan sisa uangnya yang tinggal sekitar 250 ribu rupiah.
Siapa yang menyangka ketika menemani temannya mencari rumah kos, ia lalu ditawari untuk tinggal bersama, salah seorang penjaga kos yang mereka datangi.
“Kalau memang kamu mau, kamu tinggal sama saya aja, tapi ya namanya juga kamar penjaga kos-an ya, enggak ada apa-apa, dan sempit”. Nanti kamu bayarnya terserah aja berapa dan kapan.
Kalau kamu ada uang aja dibayar, tapi kalau uang listrik bayarlah ya, maksudnya paling cuman 10 apa 20 puluh ribu per bulan gitu,” katanya. Satu masalah selesai, ia pun harus memikirkan uang untuk membayar buku praktikum dan biaya hidup, khususnya untuk makan.
Untuk menyiasati hal tersebut, Obin membuat strategi hanya makan satu kali sehari di kantin kampus di waktu sore hari, agar bisa mengganjal rasa lapar hingga keesokan harinya. Untuk sepiring nasi dengan lauknya, Obin harus membayar sekitar 6-7 ribu rupiah.
“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging karena bayarnya kan cuman itu doang,” jelasnya.
Untuk mengatasi rasa lapar yang biasa melanda di tengah malam, Obin menyimpan biskuit kelapa di kamarnya. “Aku ambil 1-3 biji, makan, sambil nangis,” kenangnya.


Robin Sinurat lulusan Columbia University AS
“Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu. 

Karena kalau menurut aku, kalaupun aku kasih tahu aku susah segala macam, toh juga orang tua nggak punya uang,,,, ya mau gimana, kan?” lanjutnya.
Agar bisa meneruskan kuliah, Obin lalu dianjurkan oleh dosen pembimbing dan dekan untuk mendaftar beasiswa dari PPA (Peningkatan Prestasi Akdemik) dan BBM (Bantuan Belajar Mahasiswa). 

Nilainya yang selalu bagus sejak duduk di bangku SMA serta doa orang tua membuahkan beasiswa di semester dua hingga lulus.
Untuk bertahan hidup, ia pun mencari peruntungan kerja dengan mengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat Kota Palembang yang berjarak sekitar satu jam dari kampusnya. 

Pernah satu kali ia mengirimkan batik untuk orang tuanya dari hasil kerjanya. “Mereka terharu dong,” ujar pria yang hobi jogging dan berenang ini.
Terjun ke Bidang Sosial di Palembang
Minat Obin di bidang sosial tumbuh saat tinggal di Kota Pempek Palembang. Obin yang supel dikenal sangat aktif berorganisasi. Ia tergabung di Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist.
Dia terpilih menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika. 

Setelah lulus, ia pindah ke Jakarta untuk menerima tawaran kerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation.
Setelah itu di Jakarta ia juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan. Kerap kali ia mengikuti konferensi-konferensi baik di tingkat Nasional maupun Internasional yang pernah membawanya hingga ke Malaysia.
Mengejar Impian Hingga ke Negeri Paman Sam
Obin lalu memiliki cita-cita yang baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Setelah empat kali mencoba mendaftar beasiswa untuk program Young Southeast Asian Leaders Initiative dari pemerintah Amerika Serikat, ia lalu berhasil memperolehnya.
Selama lima minggu ia digodok di University of Nebraska di kota Omaha, untuk belajar mengenai pengembangan keterlibatan warga (Civic Engagement) dan kepemimpinan.

“Yang pertama itu sih aku merasa bangga, karena aku pola pikirnya berubah, lebih baik, terus leadership skils-nya juga, dan public speaking juga, karena harus ngomong di depan teman-teman.
Dan yang paling pentingnya lagi adalah aku harus practice bahasa Inggris setiap hari sama teman-teman yang lain,” cerita Obin yang pernah bertemu dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama saat mengikuti konferensi di Malaysia.
Tahun 2015 Obin kemudian terpilih untuk mengikuti program dari Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI) untuk pergi ke Ende, Nusa Tenggara Timur.
Dari 45 ribu orang yang mendaftar hanya 33 orang yang terpilih, termasuk dirinya. Kunjungannya ke Ende kemudian mendatangkan gagasan untuk membuat perpustakaan untuk anak-anak SD, SMP, dan SMA, kenangnya.
Sesuai dengan rencananya, tak lama kemudian Obin memutuskan untuk mendaftar beasiswa untuk studi S2. “Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang social.
Diceritakannya karena pekerjaan aku selama ini social, disamping background aku itu fisika kadang orang merasa kalau aku prakteknya udah banyak, cuman di teori enggak ada.
Nggak ada degreenya di teorinya,” jelas Obin yang juga pernah bekerja untuk organisasi Nirlaba American Voices di Indonesia dan mengikuti program Rumah Perubahan Rhenald Kasali.

Robinson Sinurat
Melalui beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan), Obin berhasil diterima di berbagai Universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris.
"(Mamak) kalau enggak salah lagi metik cabe, di kebun  mendengar aku di terima melanjutkan S2 di Universitas Luar Negeri, terus katanya dia langsung kayak berlutut gitu, mengucapan syukur gitu lho. Di deket pohon cabe,” kenangnya sambil tertawa. “Terus dia nangislah, (katanya) ‘selamat ya nak’,” lanjutnya.
Dari seluruh universitas yang menerimanya, Obin memutuskan untuk memilih Columbia University, sebuah universitas prestisius atau Ivy League di New York. Jurusan 'social work' (pekerjaan sosial) menjadi pilihannya. 
“Yang lucunya aku cerita ke orang tua, ke Bapak sama Mamak kan, aku lolos Columbia University di Amerika. Terus kata mereka, bukannya di ucapin selamat, ini enggak. “Loh kenapa ke Amerika lagi? Bukannya kemaren mau ke Inggris?” ujarnya lagi sambil tertawa.


Sesampainya di Amerika Serikat dan memulai kuliah di tahun 2016, Obin mendapat tantangan baru. Bacaan yang banyak dan tugas yang menumpuk sempat membuatnya patah semangat dan “badan kurus kerempeng.”

Tetapi, dengan kemampuan bahasa Inggris yang menurutnya masih menjadi kendala, ia tetap berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus Amerika. Kali ini strateginya adalah mempersiapkan diri dan berpartisipasi di dalam kelas.
“Aku udah targetin, setiap mata kuliah itu aku at least nanya satu atau jawab satu. Kalau memang bisa lebih, lebih bagus, tapi at least satu,” jawabnya.


Bersama artis Tasya Kamila tengah dan Kania
Menurutnya dosen di Amerika Serikat sudah seperti teman sendiri. Jika ada pertanyaan, boleh langsung mengirim e-mail atau datang ke kantornya di saat jam kerja.
Seperti saat kuliah di Universitas Sriwijiaya dulu, Obin kembali aktif di kampus. 

Ia menjadi salah satu tim pemasaran untuk PERMIAS (Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) dan mendirikan International Student Caucus di kampus bersama teman-temannya.
Cita-cita Obin untuk lulus S2 pun tercapai di tahun 2018. Impian lainnya? Mendatangkan Bapak dan Mamak ke Amerika Serikat, dengan hasil tabungannya selama ini, ujarnya  dengan optimis.
“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua (Bapak dan Mamak), karena waktu S1 kan cuman (Mamak), karena faktor biaya. Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.
Bermodalkan impian besar akhirnya bisa mengantongi sarjana dari Columbia University USA kampus dimana Barack Obama mantan Presiden Amerika Serikat juga menammatkan gelar sarjananya.  

Obin kini bekerja di lembaga Nirlaba, Queens Community House di New York, sebagai Counseling Specialist. Pencapaian Obin selama ini kembali lagi kepada pedoman hidupnya. “Be honest. Be brave. Be willing.” Jujur. Berani. Mau berjuang.

“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup. Dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. 
Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” ujarnya.
Tak lupa menurut Obin, yang juga tak kalah penting adalah kemauan untuk berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. “Jadi aku sih berharapnya gitu. Makanya aku bikin itu jadi motto aku sendiri. Be honest. Be brave. Be willing,” pungkasnya. (Voaindonesia).

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong