Home » , , , , » Merasa Berutang Kepada Masyarakat, Pdt Willem TP Simarmata, MA Janji Kerja Keras Sebagai Anggota DPD

Merasa Berutang Kepada Masyarakat, Pdt Willem TP Simarmata, MA Janji Kerja Keras Sebagai Anggota DPD

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Jumat, 12 Juli 2019 | Juli 12, 2019


Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah RI, WTP Simarmata, dan pimpinan pondok pesantren Al Hidayah, Khairul Ghazali (kedua dan ketiga kanan), berfoto bersama di lahan pertanian di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru (Deli Serdang), yang direncanakan dijadikan lahan percobaan pertanian organik, beberapa waktu lalu. (istimewa)
Medan, MH -  Walau belum secara sah terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ephorus (Emeritus) HKBP, Pdt Willem TP Simarmata, MA pasti akan duduk menjadi salah seorang senator mewakili Provinsi Sumatera Utara di Senayan.

Pada Pemilu 2019, dari 19 Orang calon, WTP berhasil meraih suara terbanyak, yakni 803.608 suara. Komisi Pemilihan Umum, masih ditunggu keputusan Mahkamah Konstitusi tentang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum, barulah kemudian diputuskan dan ditetapkan nama-nama calon terpilih.

Atas besarnya dukungan masyarakat yang memilihnya, Ephorus (Emeritus) HKBP ini mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Tuhan dan segenap warga yang telah memberi kepercayaan dengan cara memberikan suaranya.

"Saya berhutang kepada masyarakat Sumut, saya akan bekerja keras selama lima tahun ke depan (2019-2024) memperjuangkan kepentingan masyarakat Sumatera Utara," ungkapnya kepada Medanbisnisdaily.com, Jumat (12/7/2019).

Sebagai senator terpilih, WTP sudah merencanakan seratus hari pertama program yang akan dikerjakan. Yang pertama, melatih masyarakat bertani secara organik. Kegiatan perdananya akan dilakukan di Pondok Pesantren Al Hidayah pimpinan Khairul Ghazali (dikenal dekat dengan Nurdin M Top) di kawasan Desa Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang.

Terangnya, Khairul adalah bekas anggota teroris yang sudah bertobat. Bersamanya di pesantren terdapat 30 orang lainnya yang merupakan anak-anak teroris. Pernah dididik di Malaysia dan bertempur melawan tentara Rusia di Afghanistan.

"Pada 1 Juli lalu saya sudah berjumpa dengan pimpinan Pesantren Al Hidayah, Khairul Ghazali, untuk memulai kerja sama pertanian organik," terang WTP yang mengusung motto "Kemajemukan adalah Kekayaan dan Kekuatan" pada masa kampanyenya.

Paparnya, kelak para santri akan dilatih bertani secara organik; menanam sayuran, mempersiapkan pakan ikan dan ayam organik. Sudah terdapat lahan seluas sekitar 40 Ha, di mana 20 Ha di antaranya telah dikelola. Guna mendukung, akan didatangkan pelatih pertanian organik dari luar ke pesantren.

"Sekaligus saya lakukan program ini juga menjadi bagian dari upaya bangsa dan negara kita melawan radikalisme serta ekstrimisme. Membangun kecintaan pada bangsa, Pancasila dan UUD 1945. NKRI adalah rumah kita bersama," tegas WTP.

Bersama Departemen Pengabdian Masyarakat HKBP, WTP menyatakan sudah pernah mengembangkan pertanian organik. Juga sudah pernah menandatangani MoU dengan Wali Kota Tebing Tinggi.

Tidak menentunya harga produk pertanian, khususnya di Sumut, menjadi perhatian bagi WTP. Selama ini petani tidak jadi penentu bagi hasil taninya. Yang dominan menentukan adalah para tengkulak. Akibatnya, yang sangat sering harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi.

"Solusinya, perlu adanya peraturan daerah yang mengatur standard harga hasil tani; bawang, padi, karet dan lainnya," katanya.

Tidak ketinggalan pembinaan generasi muda juga mendapat perhatian oleh Pdt Willem TP. Simarmata, MA. Aneka kegiatan akan dilangsungkan, khususnya di bidang olah raga, guna keperluan pembinaan itu.

Sama seperti yang telah dilakukan empat tahun lalu, 2013 - 2016, yaitu pertandingan sepakbola antar pelajar tingkat SMA dan kid soccer untuk murid SD. Dilakukan sebagai kesempatan untuk mencari bibit-bibit muda pesepakbola di Sumut. (Medanbisnisdaily.com).


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong