Home » , , » Seksi Ama HKBP Jambi Mengadakan Semiloka," Ama Na Marsahala "

Seksi Ama HKBP Jambi Mengadakan Semiloka," Ama Na Marsahala "

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Jumat, 18 Oktober 2019 | Oktober 18, 2019

Kiri - Kanan : St J Purba, Pdt Samsir Deli Sinaga, D.Min, Pdt Tampak Hutagaol, M.Th, St Drs B Sihombing, St T Sihombing, S.Pd dan St SS Manalu, S.Th pada acara Semiloka Ama Na Marsahala di lantai II Sopo Godang Jubileum HKBP Jambi, Kamis 17 Oktober 2019. (Poto MH - Fendi Sinabutar).
Jambi, MH - Seksi Ama HKBP Jambi Resort HKBP Distrik XXV HKBP Jambi bekerjasama dengan Dewan Koinonia menyelenggarakan  Semiloka dengan thema : " Ama Na Marsahala" yang dilaksanakan di lantai II Sopo Godang Jubileum HKBP Jambi pada hari Kamis, 17 Oktober 2019. Semiloka Seksi Ama ini adalah merupakan program Huria 2019.

Dengan pembicara Pdt Tampak Hutagaol, M.Th dan Pdt Samsir Deli Sinaga, D.Min, Semiloka seksi Ama tahun 2019 ini dihadiri dari perwakilan setiap Wijk dilingkup gereja HKBP Jambi Resort Jambi Distrik XXV HKBP Jambi. Acara ini di mulai pada pukul 14.00 WIB s/d 18.00 WIB.

Pdt Tampak Hutagaol, M.Th Pimpinan Jemaat HKBP Jambi  dan moderator St J Purba.
Sebelum acara semiloka dilaksanakan terlebih dahulu diadakan seremoni kebaktian. Ibadah ini langsung dipimpin Gr Ramses Manurung dan liturgis di sampaikan oleh St Drs B Sihombing. Gr Ramses Manurung mengambil naats dari 1 Timoteus 4 : 12b. Renungan ini singkat dan padat, Gr Ramses menjabarkan bahwa Ama Na Marsahala, menjadi Ama teladan bagi orang -orang  percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kecucianmmu.

Pdt Tampak Hutagaol, M.Th Pimpinan Jemaat HKBP Jambi mengambil judul " Peranan Ama Na Marsahala Dalam Kehidupan Keluarga, Gereja dan Masyarakat"  sebagai moderator St J Purba. Pdt Tampak Hutagaol dalam paparannya menyatakan bahwa Marsahala itu identik dengan Kesaktian yang dimiliki oleh seorang Pemimpin atau Raja, namun Kata Marsahala diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan "Wibawa" .

Suasana Semiloka Ama Na Marsahala.
Ketua PGI Wilayah Jambi ini menyatakan bahwa Sahala dapat kita artikan secara positif yang memiliki kekuatan spesifikasi yang bersumber dari Iman atau percaya kepada Tuhan. Dikatakan lagi bahwa dalam konteks kekristenan kata Marsahala dengan pengertian yang baru. Sehingga Ama Na Marsahala bukan hanya muatan pemahaman yang baru, bahkan sudah merupakan penampakan seorang Ama yang benar-benar mengandalkan hidup spritual dalam dinamika sehari-hari.

Lebih lanjut dikatakan  bahwa sosok Ama Na Marsahala harus tetap berlandaskan Firman Tuhan, hal ini diibaratkannya dengan  melihat sosok Yosua dalam hidupnya. Dalam Kitab Perjanjian Lama Yosua merupakan Ama Na Marsahala, ditengah-tengah cobaan, tantangan dan pergumulannya dia menjamin anak-anaknya, keluarganya dan rumah tangganya commit Setia, Percaya dan Taat kepada Allah.

Suasana Semiloka Ama Na Marsahala.
Begitu juga dengan keberadaan Nommensen, yang bersahabat dengan seorang Raja di Silindung Tapanuli Utara, ketika Raja datang ke pesta hasipelebeguon, Nommensen menegur Raja itu dengan keras, dan Raja menerima teguran itu, karena Raja benar-benar mengaku bahwa Nommensen Marsahala karena khabar baik yang diberitakannya  (FirmanTuhan), ungkapnya.

Dijelaskannya adapun alasan kekaguman Raja-raja Batak kepada Nommensen adalah berhasil mendirikan komunitas (kampung), tau soal Agama dan Alkitab mengetahui tentang adat istiadat, mampu memecahkan persoalan dengan memberi keadilan dan kecerdasan berpikir, ketangkasan, mahir berbicara  dan bijak membuat keputusan, tuturnya.

Dikatakannya  bahwa Ama Na Marsahala adalah merupakan sebagai pemimpin keluarga mampu membentuk persekutuan keluarga, karena keluarga itu adalah miniatur gereja (jemaat kecil). Dan Sahala seorang pemimpin keluarga terletak dalam ketika rumah adalah tempat pertama dan utama dalam pembentukan emosional dan spritual anak / keluarga yang takut akan Tuhan, pungkasnya.

Pdt Samsir Deli Sinaga, D.Min dan moderator St SS Manalu, S.Th.
Sebaliknya ketika krisis spritual terjadi, tidak ada lagi jaminan untuk "Ama Na Marsahala". Akan tetapi ketika sehat spritual berarti hidup bermakna  sehingga tercipta Ama Na Marsahala. Cerdas spritual bertumpu pada bagian terdalam diri kita dalam kepemilikan kekuatan, ujar mengakhiri.

Sementara Pdt Samsir Deli Sinaga, D.Min mengambil judul "Ama Na Marsahala di tinjau dari ilmu sudut Pastoral" moderator St SS Manalu, S.Th. Pdt kelahiran Tanjung Morawa Sumatera Utara ini menyatakan bahwa tahun 2019 ini HKBP menetapkan sebagai Tahun Parasinirohaon. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati" (Luk: 6:36).

Suasana Semiloka Ama Na Marsahala.
Pdt lulusan SD dan SMP di Tanjung Morawa ini menyatakan orang yang bermurah hati adalah orang yang sudah menerima dan merasakan karya Tuhan dalam hidupnya. Selanjutnya dikatakan aplikasi dan praktek bermurah hati orang Kristen tidaklah melihat orang dan tidak hanya pada waktu-waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Kaum Bapak (Ama) sesungguhnya sangat berpeluang untuk menjadi orang yang bermurah hati sebagai bukti yang sudah "Marsahala". ungkap alumni SPGAK (Sekolah Pendidikan Agama Kristen) Medan.

Alumni STT Pematangsiantar menjelaskan kaum bapak (Ama) paling sedikit mempunyai 4 (empat) potensi penting yaitu potensi hubungan keluar (extern), potensi ketrampilan, potensi kepemimpinan dan potensi psikologis.

Lebih lanjut mantan Pdt  Ressort di HKBP Bontang Kaltim menyatakan  fungsi seorang Bapak (Ama) dari segi Pastoral dikutip dari teolog Paul Tillich menyatakan bahwa karakteristik dasar manusia adalah nalurinya untuk mengasuh dan mendampingi. Secara teori bentuk pelayanan pengasuh Bapak (Ama) dalam pelayanan keluarga disebut dengan pendampingan Pastoral dan konseling pastoral, ungkap suami Hilda Wiryanti Sitorus, AMd. Keb.

Alumni S2 STT Yogyakarta dan S3 STT Jakarta ini menyatakan bentuk pendamping pastoral dalam kehidupan komunitas beriman di tengah keluarga bisa terwujud yaitu Sa Te (Saat Teduh), pelayanan liturgi dan pelayanan Diakonia.

Disebutkan bahwa upaya menjadi Bapak (Ama) dari segi pastoral adalah sediakan waktu untuk keluarga, menjadi komunikator yang baik, berikan disiplin dan pujian yang pengasih, kasihi dan respeklah istri anda dan tetapkan hikmat Allah yang praktis, ungkap mantan Kepala Biro Ibadah dan Musik di Kantor Pusat HKBP.

Pendeta  yang pernah melayani di HKBP Jember Jawa Timur menyatakan seorang Bapak (Ama) harus punya prinsip  bahwa hadiah utama dari menjadi seorang Bapak (Ama) Pendeta Praktek di HKBP Sei Rampah Tebing Tinggi mengambil naats dari Alkitab 3 Yoh 1 : 4  "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran".

Kharisma seorang bapak (Ama) di tengah keluarga menurut mantan Wakil Direktur Percetakan HKBP Pematangsiantar adalah seorang sosok yang dibutuhkan, dirindukan oleh anak-anak maupun istri, karena suami itu adalah Selalu Untuk Anak Maupun Istri (SUAMI), ujar Pendeta yang pernah melayani di HKBP Diaspora Surabaya Jawa Timur.

Dosen tidak tetap Pasca Sarjana PAK UKI Jakarta ini mengharapkan bahwa gereja perlu memikirkan pembekalan-pembekalan kepada Bapak (Ama) secara berkala, sehingga anggota jemaat Bapak (Ama) adalah menjadi Ama yang bijak, berwibawa dan berintegritas yang memiliki jiwa pendamping pastoral di tengah rumah tangga, tutur Pendeta  yang pernah melayani di HKBP Setia Mekar Bekasi dan Kepala bidang Marturia Distrik XIX Bekasi.

Semiloka Seksi Ama HKBP Jambi dengan tema Ama Na Marsahala ini sangat diapresiasi kaum Bapak (Ama) terlihat ketika sesi tanya jawab, mereka memberikan masukan-masukan sekaligus  menyarankan agar kaum Ama tersebut dapat dirangkul  dan diharapkan untuk selanjutnya hal-hal seperti ini dapat berkelanjutan. (MH - Fendi Sinabutar).










Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong