Home » » Pesona Pulo Sibandang Pulau Terbesar Di Perairan Danau Toba Setelah Pulau Samosir

Pesona Pulo Sibandang Pulau Terbesar Di Perairan Danau Toba Setelah Pulau Samosir

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Kamis, 03 Maret 2022 | Maret 03, 2022

Pulo Sibandang berada di Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara surganya Pesona Wisata Danau Toba.

JAMBI, MH  -  Selain Pulau Samosir, masih ada pulau yang berada di perairan Danau Toba, yang dinamai Pulo Sibandang. Pulo adalah bahasa Batak Toba, yang dalam Bahasa Indonesia disebut pulau.

Pulau ini merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara.  

Bila pengunjung sedang berada di Kecamatan Muara, pulau ini tepat berada di hadapannya. 

Mayoritas penduduk di desa ini adalah bertani, secara khusus bertani bawang. Selain bawang, hasil pertanian buah juga dapat ditemukan di desa ini, khususnya mangga. 

Maka, tak heran bila desa ini penghasil mangga di kawasan Danau TobaPulau ini memiliki luasa sekitar 461 hektare dan berada pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut. 

Sehingga, sejumlah tanaman plawija dan pohon berbuah tumbuh subur di kawasan tersebutPulo Sibandang ini juga dikenal sebagai satu diantara 16 geosite yang ada di Geopark Kaldera Toba.

Sehingga, potensi alam, budaya - adat, serta sosial kemasyarakatan terus diperkenalkan dengan harapan kawasan ini menjadi tujuan wisata di masa mendatang.

Ketika ingin sambangi kawasan ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang bagus saat berada di Pelabuhan Muara sejauh mata memandang terlihat sangat menakjubkan dan indah Pulo Sibandang tersebut.

Masyarakat di kawasan tersebut juga dikenal sangat ramah. Objek wisata yang lain juga dapat dinikmati para pengujung sebelum berangkat menuju Pulo Sibandang.Tepat di Pulo Sibandang, objek wisata yakni desa pengrajin ulos dapat menjadi wisata edukasi.

Di pulau ini, pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan Ulos Harungguan yang berada di Desa Papande. Ulos di desa tersebut masih dibuat dengan alat tenun tradisional.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati sebuah ritual kuno masyarakat setempat yang dinamai Hodahoda.Ritual ini akan dipadukan dengan tarian (mossak) sebagai karya seni budaya. 

Dari sisi pertanian, pulau ini dikenal dengan sebutan pulau mangga.Pulo Sibandang ini ditumbuhi pohon mangga yang dikenal manis. Bahkan, pulau ini dikenal sebagai penyuplai buah mangga di kawasan Danau Toba hingga bagi masyarakat Provinsi Sumatera Utara. 

Dengan tanah yang subur Pulo Sibandang juga menjadi surga Budidaya pertanian. Agrowisata di kawasan ini pun berkembang, apalagi Pulo Sibandang yang dikenal sebagai Pulo Mangga. 

Buah ini dihasilkan di tiga Desa yakni Desa Sampuran, Desa Papande dan Desa Sibandang. Selain mangga Pulo Sibandang juga jadi sentra penghasil kemiri, cokelat dan kopi. Pada segi infrastruktur dilengkapi beragam homestay yang berkonsep gaya arsitektur khas. 

Masyarakat sekitar sangat ramah, sementara menu kulinernya khas dengan cita rasa nikmat dan tradisional. 

"Keasrian Pulo Sibandang ini masih terpelihara dengan baik, selain nyaman harga yang ditawarkan juga menarik". Pulau Sibandang ini ternyata menyimpan sejuta pesona; alamnya asri dan  indah, peninggalan budaya yang lestari, serta situs - situs sejarah bagi masyarakat sekitar. 

Misalnya, rumah peninggalan Kepala Nagari Rajagukguk yang kini dijadikan sebagai wisata sejarah. Usia rumah peninggalan tersebut sekitar 300 tahun.  

Selain rumah peninggalan Kepala Nagari Rajagukguk, di pulau ini juga terdapat makam Raja Sorta Uluan yang diyakini sebagai Raja Pulau Sibandang di puncak bukit Sibandang, hingga situs berupa Partukkoan yang merupakan kursi batu tempat para Raja terdahulu melakukan musyawarah.

Untuk menuju kawasan Pulau Sibandang, pengunjung dapat memilih beberapa rute. Bila melalui rute Parapat dan Dolok Sanggul, pengunjung harus masuk melalui simpang Bandara Silangit atau Muara, kemudian menuju pelabuhan kapal di Desa Unte Mungkur. 

Dari pelabuhan, pengunjung akan menikmati perjalanan kapal penyeberangan dengan jarak sekitar 600 meter atau waktu tempuh sekitar sepuluh menit. (Berbagai Sumber, MH - Fendi Sinabutar).


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong