Berita Terkini

10/recent/ticker-posts

Sisi Peduli Pelestarian Budaya Musik Tradisional "Uning - Uningan" Batak Toba

Alat musik tradisional Batak Toba sedang dimainkan.

JAMBI, MH  - Frengki Talupan Sihombing bersama Hasiando Tambunan mengungkapkan, sisi kepedulian akan pelestarian alat musik tradisional Batak Toba yang disebut uning-uningan menghantarkan langkahnya menuju salah satu workshop uning-uningan Batak Toba di Desa Pansurnapitu Kecamatan Siatasbarita Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara.

"Musik tradisional Batak Toba kian terlucuti di era digitalisasi, saat ini. Sikap peduli akan pelestariannya harus melekat di hati," ungkap Frengki di Siatasbarita.

Menurutnya, keberadaan uning-uningan Batak Toba sebagai lambang kebudayaan kian tergerus di sejumlah wilayah Tapanuli, seperti di Kotamadya Sibolga. Pun menurut Hasiando Tambunan, 26 tahun, putera Sipirok Tapanuli Selatan yang menilai keberadaan uning-uningan Batak Toba telah terpinggirkan di wilayah Tapanuli Selatan, saat ini.

"Kebetulan, kami datang ke sini untuk menjemput uning-uningan yang sudah kami pesan sebelumnya," jelasnya. Sisi kekhawatiran keduanya akan upaya pelestarian keberadaan uning-uningan Batak Toba telah menghantarkan langkah mereka ke workshop uning-uningan Batak Toba milik Slamat Harianja, di Desa Pancurnapitu Kecamatan Siatasbarita.

"Musik tradisional merupakan unsur budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan sehingga tidak punah seiring perkembangan zaman," imbuh Frengki. Sebab, sesuai keyakinan masyarakat Batak, uning-uningan merupakan sarana dalam menyampaikan harapan, doa dan memohon perlindungan kepada Yang Kuasa.

PT Eldivo Tunas Arta (ETA) Rute Jambi - Pematang Siantar dan Pematang Siantar Antar Kota Antar Provinsi (AKAP).

"Amatan saya, budaya Batak Toba dalam bidang seni musik di sekitaran Tapanuli semisal Kotamadya Sibolga sepertinya sudah tergerus dan bahkan nyaris terlupakan," ujar Frengki. Padahal, kata dia, Kota Sibolga terkenal akan sematan ungkapan "Negeri Berbilang Kaum" yang secara harfiah berarti wilayah yang memiliki berbilang budaya, namun justru budaya Batak Toba semakin tergerus.

"Makanya, saya berusaha agar generasi muda bisa berperan mengembangkan seni budaya Batak Toba di manapun," ungkap ayah tiga anak itu. Dikatakan, menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi dirinya selaku masyarakat Batak untuk melestarikan dan mewariskan budaya, meski dirinya hanya sekedar penikmat tanpa keahlian memainkan uning-uningan.

Hal senada juga diucapkan Hasiando Tambunan yang saat ini sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Sumatera Utara (USU) menilai bahwa upaya pelestarian Budaya Batak menjadi hal yang harus diterapkan.

Sebagai pimpinan Yayasan Hasiando Tambunan yang bergerak di bidang sekolah model industri di Sipirok, dirinya bertekad untuk mewujudkan sebuah pilot poject yang dibiayai secara pribadi demi upaya pelestarian Budaya Batak.

"Ke depan pelestarian Budaya seni Batak menjadi pilot project bagi yayasan, saya akan dirikan sanggar seni," tukasnya. Di sela ungkapan semangat pelestarian uning-uningan Batak Toba, keduanya pun tampak hanyut dalam alunan suara uning-uningan berupa Taganing, Hasapi dan Suling yang dimainkan Slamat Harianja. (Berbagai Sumber, MH - Fendi Sinabutar).

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar