Berita Terkini

10/recent/ticker-posts

Refleksi Jumat Agung, “Memikul Salib dari Tong Sampah”

 Penyaliban Yesus, Kematian yang Paling Menyakitkan
ILUSTRAS"-Memikul Salib dari Tong Sampah". Asenk Lee Saragih
MHO-Tantangan hidup masyarakat Diaspora (perantauan) untuk menafkahi keluarga kini semakin berat dan dituntut untuk lebih kreatif dan jauh dari rasa gengsi. Era modern milenia ini pula, tak sedikit manusia yang menyelesaikan persoalan hidupnya dengan tak terpuji. Misalnya dengan menghalalkan segala cara lewat tindakan kejahatan. Bahkan paling miris lagi, ada orang menyelesaikan beban hidupnya dengan mengambil jalan pintas karena putus asa dan akhirnya “bunuh diri”. Namun tantangan hidup yang semakin berat saat ini, menjadi salah satu ujian berat dalam “Memikul Salib Kristus”.

“Memikul Salib dari Tong Sampah”, judul itu saya buatkan sebagai suatu kesaksian kasat mata. Satu keluarga umat Nasrani di Jambi yang menafkahi keluarga sebagai “Pemulung”. Pada tulisan ini saya tak menuliskan secara rinci siapa keluarga tersebut demi kenyamanan keluarga itu.

Sebuah keluarga ini menyanggupi hidup keluarga dari “Tong Sampah” yakni dengan memungut barang-barang bekas dari tong sampah. Aktifitas (Ayah) kepala keluarga ini mulai menjalani profesinya sejak Pukul 22.00 WIB hingga subuh.

Memang jam kerja ini tidak lumrah bagi pemulung di Jambi. Namun agar banyak menemukan barang-barang bekas di Tong Sampah, Ayah dari 3 orang anak ini harus berangkat dari rumah Pukul 22.00 WIB untuk mengais rezeki.

Perjuangan Pria berperawakan kurus ini, mencari nafkah dari “Tong Sampah” sudah lama. Hingga kini profesi itu sudah menyatu dengan keluarganya. Tak ada lagi rasa “rendah diri”, karena menggeluti profesi itu, apalagi gengsi.

Dengan prinsip halal hasil keringat, memulung sudah menjadi profesi yang lekat padanya. Anak-anaknya juga tidak merasa “rendah diri” disaat mengetahui ayah mereka berprofesi seorang pemulung.

Walaupun sebagai pemulung, keluarga ini tetap rajin bersekutu dengan jemaat melalui ibadah minggu hingga ibadah keluarga (Partonggoan). Ayah dari 3 anak ini juga tak pernah tersiar menyakiti hati sesama jemaat dan juga patuh terhadap kewajiban-kewajiban di gereja.

“Memikul Salib dari Tong Sampah” memang menjadi beban berat yang harus menjadi alternatif atau jalan keluar untuk menafkahi keluarganya. Bergelut dengan Tong Sampah yang bau menyegat hidung, tak membuatnya untuk tampil lusuh saat beribadah. Penampilannya tetap bersih selayaknya pakaian jemaat lainnya.

Disaat ditunjuk jadi tuan rumah ibadah rumah tangga (Partonggoan), keluarga inipun tak pernah menolak. Karena mereka sadar, Partonggoan itu sebagai persekutuan yang membawa berkat Tuhan.

Disaat ada orang yang memiliki profesi terhormat, mapan, dan juga berwibawa, namun kerap juga profesi itu membawa mereka ke lembah dosa. Perbuatan-perbuatan yang tercela kerap menggelinding dari oknum-oknum orang yang berprofesi mulia, salah satunya tindakan KORUPSI.

“Memikul Salib dari Tong Sampah” mengingatkan kita untuk bersyukur kepada Sang Pencipta, bahwa kita masih diberikan berkat dan aktifitas atau profesi yang tak sekelas pemulung tadi.

Ketekunan keluarga pemulung ini beribadah dalam persekutuan, merupakan suatu gambaran nyata hidup manusia yang mensyukuri Berkat Tuhan. Kesetiaan keluarga ini “Memikul Salib” dengan profesi yang sebagian orang menilai rendah, namun Bagi Tuhan Begitu Berharga.

Persoalan ekonomi yang semakin sulit kini, tak menyulutkan semangat Beribadah bagi keluarga Jemaat ini. Ketekunan mereka dalam Peribadahan, menandakan mereka “Memikul Salib dari Tong Sampah” juga sebagai berkat dari Tuhan Sang Pencipta.

Penderitaan yang dialami Yesus pada peristiwa menuju dan di Bukit Golgota, mengingatkan kita begitu besar pengorbanan Yesus untuk menebus dosa manusia. Untuk mengampuni sesama, peduli sesama, sebagai wujud nyata pengorbanan Yesus yang bisa kita aplikasikan pada kehidupan sehari-hari.

Jumat 30 Maret 2018 (Pukul 13.00 WIB) saya akan mengikuti kebaktian Jumat Agung, memperingati peristiwa penyaliban Yesus di Bukit Golgota. Tahun ini juga saya telah melewati 43 kali Jumat Agung, atau dalam kebiasaan orang Israel disebut Perayaan Paskah.
 
Kematian yang Paling Menyakitkan

Menurut penelitian dari dr C Truman Davis yang dipublikasikan dalam Majalah New Wine (April 1982) dan awalnya diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Arizona (Maret 1965): Penyaliban diciptakan oleh Bangsa Persia pada 300 SM, dan disempurnakan oleh Orang Romawi pada tahun 100 SM.
ILUSTRASI-PENYALIBAN YESUS DI BUKIT GOLGOTA. Google
Ini adalah kematian yang paling menyakitkan yang pernah diciptakan oleh manusia. Istilah “menyiksa” dalam bahasa Inggris “excruciating” berasal dari peristiwa ini. Penyaliban hanya ditujukan untuk penjahat laki-laki yang paling kejam.

Yesus menolak anggur yang berfungsi sebagai anestesi (penghilang rasa sakit) yang ditawarkan kepada-Nya oleh tentara Romawi. Hal ini sesuai janji-Nya dalam Matius 26: 29, “Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku”.

Yesus ditelanjangi dan pakaian-Nya dibagi dengan para penjaga Romawi. Ini adalah pemenuhan dari Mazmur 22:18, “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku”.

Penyaliban Yesus mengerikan, lambat, dan merupakan kematian yang menyakitkan. Karena dipaku Salib, Yesus mustahil mempertahankan posisi anatominya. lutut Yesus tertekuk sekitar 45 derajat, dan Dia terpaksa menanggung beban-Nya dengan otot paha-Nya, yang bukan merupakan posisi anatomis yang mungkin untuk menjaga lebih dari beberapa menit tanpa kram parah pada otot dari paha dan betis.

Berat Yesus ditanggung di kaki-Nya, dengan paku didorong melalui mereka. Sebagai kekuatan otot-otot anggota badan Yesus lebih rendah lelah, berat tubuh-Nya harus dipindahkan ke pergelangan tangan-Nya, tangan-Nya, dan bahu-Nya.

Dalam beberapa menit ditempatkan di kayu Salib, bahu Yesus terkilir. Beberapa menit kemudian siku dan pergelangan tangan Yesus menjadi terkilir. Hasil dari dislokasi ekstremitas atas adalah bahwa Lengannya 9 inci lebih panjang dari biasanya, dengan jelas ditampilkan pada Kain Kafan.

Hal ini menggenapi nubuatan dalam Mazmur 22:14, “Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku”.

Setelah pergelangan tangan, siku, dan bahu Yesus terkilir, berat tubuh bagian atas-Nya menyebabkan traksi pada otot Mayor Pectoralis dari dinding dada-Nya. Kekuatan traksi ini disebabkan rusuk-Nya harus ditarik ke atas dan keluar, dalam keadaan yang paling tidak wajar.

Dinding Dadanya permanen dalam posisi pernapasan inspirasi maksimal. Untuk menghembuskan napas, Yesus harus memaksa tubuh-Nya secara fisiologis. Untuk bernapas keluar, Yesus harus menekan pada paku di kaki-Nya untuk menaikkan tubuh-Nya, dan memungkinkan tulang rusuk-Nya bergerak ke bawah dan ke dalam untuk menghembuskan udara dari paru-Nya.

Paru-paru-Nya berada dalam posisi istirahat inspirasi maksimum yang konstan. Penyaliban merupakan bencana medis. Masalahnya, Yesus tidak bisa dengan mudah menekan paku di kaki-Nya karena otot-otot kaki-Nya membungkuk di 45 derajat, sehingga menjadi sangat lelah, kram parah, dan dalam posisi anatomis tidak dapat lagi bergerak.

Seperti semua film Hollywood tentang Penyaliban, korban menjadi sangat aktif. Korban yang disalib fisiologis dipaksa untuk bergerak ke atas dan ke bawah (jarak sekitar 12 inci) untuk bernapas.

Proses respirasi menyebabkan sakit luar biasa, dicampur dengan teror sesak napas mutlak. Enam jam Penyaliban berlalu, Yesus makin tidak mampu menanggung beban-Nya pada kaki-Nya, karena pahaNya dan otot betis menjadi semakin kecapaian. 

Ada peningkatan dislokasi pergelangan tangan-Nya, siku dan bahu, dan elevasi lebih lanjut dari dinding dada-Nya, membuat Napasnya semakin sulit. Dalam beberapa menit penyaliban Yesus menjadi sangat dyspnoeic (sesak napas).

Gerakan naik turun Salib untuk bernapas menyebabkan sakit luar biasa di pergelangan tangan-Nya, kaki-Nya, dan siku-Nya terkilir dan bahu. Yesus dipaksa untuk makin sering bergerak seiring Ia makin kecapaian, tetapi kematian makin dekat karena sesak napas memaksa Dia untuk melanjutkan upaya-Nya untuk bernapas.

Terjadi kram yang sangat menyiksa pada otot tubuh bagian bawah Yesus secara ekstrim karena upaya menekan kaki-Nya, untuk meningkatkan tubuh-Nya, sehingga Dia bisa bernapas keluar.

Ledakan rasa sakit dari dua saraf median di pergelangan tangan-Nya yang hancur terjadi seiring tiap gerakan yang dilakukanNya. Yesus berlumuran darah dan keringat. Darah adalah akibat dari pencambukan yang hampir membunuh-Nya, dan keringat akibat Nya upaya untuk secara paksa menghembuskan udara dari paru-Nya.

Selama kejadian ini berlangsung Dia benar-benar telanjang, dan para pemimpin Yahudi, orang banyak, dan pencuri di kedua sisi-Nya yang mencemooh, memaki dan menertawakan Dia. Selain itu, ibu Yesus sendiri sedang menonton.

Secara fisiologis, tubuh Yesus menjalani serangkaian peristiwa bencana. Karena Yesus tidak dapat mempertahankan ventilasi yang memadai bagi paru-Nya, Dia sekarang dalam keadaan hipoventilasi (kekurangan pernapasan).

Kadar oksigen dalam darah-Nya mulai turun, dan terjadi Hipoksia (oksigen darah yang rendah). Selain itu, karena gerakan pernapasan dibatasi, tingkat karbon dioksida darah (CO2) tingkat meningkat, kondisi yang dikenal sebagai hiperkapnia.

CO2 yang meningkat merangsang jantungNya untuk berdetak lebih cepat untuk meningkatkan kadar oksigen, dan mengurangi CO2. Pusat pengaturan pernapasan di otak Yesus mengirim pesan penting ke paru-paru untuk bernapas lebih cepat, dan Yesus mulai terengah-engah.

Refleks fisiologis Yesus membuatNya harus mengambil napas lebih dalam, dan tanpa sadar Ia bergerak naik turun jauh lebih cepat, meskipun rasa sakit luar biasa. Gerakan spontan mulai menyiksa beberapa kali per menit, untuk menyenangkan orang banyak yang mencemooh-Nya, serta para prajurit Romawi, dan Sanhedrin.

Namun, karena Yesus dipaku di Salib serta meningkatnya kelelahan di tubuh Nya, Dia tidak dapat memberikan lebih banyak oksigen ke tubuhNya.

Serangan kembar Hipoksia (terlalu sedikit oksigen) dan hiperkapnia (terlalu banyak CO2) menyebabkan jantung-Nya untuk berdetak lebih cepat, dan Yesus mengembangkan Takikardia. Jantung Yesus berdetak lebih cepat dan lebih cepat, dan denyut nadi Nya mungkin sekitar 220 denyut / menit, kondisi ini adalah kondisi normal maksimal yang dapat dipertahankan.

Yesus tidak minum selama 15 jam, sejak jam enam malam sebelumnya. Yesus telah mengalami pencambukan yang hampir membunuh-Nya. Dia berdarah di seluruh tubuh-Nya (akibat pencambukan, mahkota duri, paku di pergelangan tangan dan kaki-Nya, serta lecet akibat Ia jatuh).

Yesus sudah sangat dehidrasi, dan tekanan darahnya merosot. Tekanan darahnya mungkin sekitar 80/50. Mengalami Syok Pertama, dengan Hipovolemia (volume darah yang rendah), Takikardia (Detak jantung berlebihan), takipnea (Tingkat pernapasan berlebihan), dan hiperhidrosis (keringat berlebih).

Pada siangnya, jantung Yesus mungkin mulai gagal. Mungkin terjadi Edema pada paru-paru Yesus. Hal ini memperburuk napasNya, yang sebelumnya sudah tidak normal. Yesus mengalami di Gagal Jantung dan Kegagalan pernapasan.

Yesus berkata, “Aku haus” karena Tubuhnya sangat membutuhkan cairan. Yesus membutuhkan infus darah intravena dan plasma untuk menyelamatkan nyawa-Nya. Yesus tidak bisa bernapas dengan baik dan perlahan-lahan tercekik sampai mati.

Pada tahap ini Yesus mungkin mengalami hemoperikardium (Plasma dan darah berkumpul di ruang di sekitar jantung-Nya). Cairan ini menyebabkan Cardiac Tamponade (berkumpulnya cairan di sekitar jantung yang mencegah jantung Yesus untuk berfungsi secara normal).

Karena hal ini jantung Yesus Pecah. JantungNya benar-benar meledak. Hal ini mungkin merupakan penyebab kematian-Nya. Untuk memperlambat proses kematian tentara menaruh kursi kayu kecil di kayu Salib, yang akan memungkinkan Yesus untuk membagi berat tubuhnya dalam bantalan di sakrum nya.

Efeknya adalah bahwa ini bisa menahan kematian hingga sembilan hari. Ketika bangsa Romawi ingin mempercepat kematian mereka hanya akan mematahkan kaki korban, menyebabkan korban mati lemas dalam hitungan menit. Ini disebut Crucifragrum.

Pada pukul tiga sore Yesus berkata, “Tetelastai,” yang berarti, “Sudah selesai.” Pada saat itu, Ia menyerahkan Roh-Nya, dan Ia mati. Ketika tentara datang kepada Yesus untuk mematahkan kaki-Nya, Ia telah mati. Tidak ada tulang TubuhNya yang rusak. Ini menggenapi nubuat di atas.

Yesus meninggal setelah enam jam penyiksaan yang merupakan proses kematian paling menyiksa dan mengerikan yang pernah diciptakan. Yesus mati sehingga orang-orang biasa seperti Anda dan saya bisa pergi ke Surga. (MH-Asenk Lee)
 

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar