Home » , » Mengenal Lebih Dekat Letnan Jenderal TNI AD Doni Monardo Kepala BNPB Dan Ketua Gugus Covid- 19

Mengenal Lebih Dekat Letnan Jenderal TNI AD Doni Monardo Kepala BNPB Dan Ketua Gugus Covid- 19

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Sabtu, 25 April 2020 | April 25, 2020

Letjend TNI AD Doni Monardo Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Ketua Gugus Covid- 19.
Jambi, MH -  Letnan Jenderal TNI AD Doni Monardo, adalah merupakan sosok Jenderal Bintang Tiga yang pertama kalinya mengemban tugas sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia sejak 9 Januari 2019. 

Ia juga ditunjuk langsung Presiden sebagai Ketua Gugus Covid-19, sebuah tim khusus yang beranggotakan ahli medis, praktisi, dan akademisi dari Pemerintah Pusat untuk menanggulangi penyebaran penularan virus Corona atau Covid- 19 di Indonesia.

Semakin meluasnya wabah virus Corona ke berbagai pelosok Tanah Air membuat sosok Doni Monardo sering muncul di layar TV untuk memberikan informasi tentang penyebaran penularan Covid- 19. Sehingga atensi publik  jutaan mata semakin tertuju tajam kepada, sang Jenderal Pemberantas  virus Corona atau Covid- 19

Kelugasan Doni Monardo dalam memahami berbagai aspek teknis dan psikis seputar permasalahan Covid- 19, cukup membantu rasa aman publik di tengah situasi penuh kekalutan akan banyaknya mis informasi yang beredar.

Doni Monardo adalah pengganti dari  Laksamana Muda (Purn) Willem Rampangilei, kepala BNPB periode sebelumnya. Sebagai ujung tombak sosok yang memimpin Lembaga Negara setingkat dengan Menteri. 

Doni Monardo diberikan mandat untuk cekatan dalam mengantisipasi, menangani ancaman bencana alam, serta bisa menularkan gaya kepemimpinan humanisnya saat melayani rakyat. Alumni Akademi Militer angkatan 85 ini juga dikenal memiliki keahlian lebih di bidang infanteri.

Perwira tinggi TNI putra pasangan Letnan Kolonel CPM (Purn) Nasrul Saad dan Roeslina yang juga putra asli berdarah Minang Nagari Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar ini memang terbiasa dengan hidup nomaden sejak kecil, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi mengikuti tugas sang Ayah.

Doni Monardo menghabiskan masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Lhokseumawe kemudian balik kembali saat Sekolah Menengah Atas ke SMA I Negeri Padang Sumatera Barat seiring dengan perpindahan tugas sang Ayah. 

Sekitar tahun 1981 lulus dari SMA 1 Padang Doni Monardo remaja bertolak ke Bandung untuk mendaftar di ITB. Ia tinggal di kawasan Jalan Riau Bandung dan aktif ikut bimbingan belajar Bahuereksa agar dapat di terima di ITB. 

Namun pada saat itu sedang ramai berita pembebasan Operasi Pembajakan Pesawat Garuda di Thailand. Doni Monardo mengikuti dengan saksama kisah tersebut melalui koran maupun siaran televisi. Hatinya tergetar merasakan keberanian pasukan Kopashanda.

Drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tersebut berlangsung empat hari di Bandara Don Mueang Bangkok dan berakhir pada tanggal 31 Maret 1981 setelah serbuan kilat Grup-1 Para Komando yang dipimpin Letnan Kolonel Infanteri Sintong Panjaitan.

Pilot pesawat Garuda, Kapten Herman Rante, dan Achmad Kirang, salah satu anggota satuan Para Komando Kopassandha, meninggal dalam baku tembak yang berlangsung selama operasi kilat pembebasan pesawat tersebut.

Sejak itu Doni Monardo membanting setir cita citanya, melupakan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mendaftar menjadi Taruna di Akabri. Lulus Akabri 1985 Doni Monardopun terpilih menjadi prajurit komando dengan kebanggaan Baret Merahnya.

Peluang Doni Monardo yang berstatus penempatan pertama di Kesatuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tak disia-siakan, memulai karir sejak 1986 hingga 1998. Dua belas tahun berkontribusi dalam kesatuan pasukan elit Kopassus, mencatatkan beberapa peristiwa penting dalam hidupnya. Dua diantaranya ketika berhadapan dengan separatis Fretilin di Timor-Timur sampai bergerilya membasmi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh.

Pada  tahun 1992 menikah dengan Santi Aviriani wanita asal Kabupaten Solok Sumatera Barat, dan dikaruniai tiga buah hati yang semakin melengkapi kebahagiaan dalam kehidupan mereka. Adapun ketiga buah hati mereka adalah Azzianti Riani Monardo (1993), Reizalka Dwika Monardo (1997) dan Adelwin Azel Monardo (2003).

Perjalanan karir Doni Monardo  kemudian berlanjut ke Pulau Dewata Bali di tahun 1999 pada Batalyon Raider, cukup dua tahun dirinya bertugas hingga tahun 2001. Pada tahun 2004, panggilan Istana agar dirinya mengawal orang nomor satu Indonesia sebagai Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ketika itu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Masuk memimpin sebagai Komandan Grup A Paspampres dari tahun 2008 hingga 2010, selama bertugas mengawal orang nomor satu di Republik Indonesia sudah mengikuti kunjungan Presiden ke- 27 Negara di dunia. 

Doni Monardo kelahiran Kota Cimahi Jawa Barat, 10 Mei 1968 kemudian diberi kepercayaan menjadi Danrem 061 Surya Kencana Bogor. Pengalaman yang begitu panjang di berbagai daerah menjadi modalnya mengamankan daerah peyangga ibu kota tersebut. Kembali tahun 2012 ia dipromosikan kembali sebagai Komandan dalam barisan Pasukan Pengawal Presiden sampai dua tahun ke depan di 2014

Kawasan Somalia, 16 Maret 2011. Dirinya dilibatkan ke dalam tim Satgas Merah Putih dan berkolaborasi dengan marinir, ia berjibaku menyelamatkan 20 nyawa awak kapal Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia. 

Dalam beberapa pekan melakukan berbagai macam manuver sampai pengejaran perompak hingga garis pantai Somalia, kapal-kapal mereka ditenggelamkan dan pelaku dihabisi. Di sinilah Doni Monardo dihadiahkan kenaikan pangkat oleh presiden SBY sebagai Brigadir Jenderal.

Ia balik kandang ke dalam korps Baret Merah sebagai Komandan Jenderal Kopassus di tahun 2014-2015. Sejak kembalinya Doni Monardo sebagai Danjen Kopassus, tujuannya memang ingin membuang kesan bahwa militer dan prajurit itu momok yang paling menakutkan di mata rakyat. Lewat kampanye “Senyum, Sapa, Salam” ia ingin nantinya para prajurit justru sejatinya seperti yang sering dielu-elukan rakyat dulu, bahwa TNI adalah teman rakyat.

Selanjutnya karier  Doni Monardo yang bermottokan "Lebih baik melangkah maju satu demi satu ketimbang melesat tanpa bekal"  dipromosikan menjadi Pangdam di dua wilayah, pertama di tahun 2015-2017 sebagai Pangdam XVI/Pattimura Kota Ambon. Kedua sebagai Pangdam III/Siliwangi selama setahun mulai 2017-2018.

Jabatan terakhirnya di militer adalah Panglima Komando Daerah Militer III/Siliwangi berpangkat Mayor Jenderal. Sementara karir non-militer terjadi sewaktu ia diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas)  tahun 2018 sampai dengan  Januari 2019.  Letnan Jenderal TNI AD Doni Monardo adalah sosok yang bertanggung jawab seputar isu permasalahan Bencana Alam di Negeri ini. (MH - Fendi Sinabutar).


Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong