Home » , , , » Di Balik Tragedi Tsunami Selat Sunda

Di Balik Tragedi Tsunami Selat Sunda

Written By MAJALAH HOLONG ONLINE on Selasa, 25 Desember 2018 | Desember 25, 2018

Suasana pantauan udara dari lokasi terjadinya tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Pantai Sumur, Pantai Teluk Lada, Pantai Panimbang, dan Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten pada Ahad, 23 Desember 2018. Tsunami Selat Sunda menghantam kawasan ini pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. TEMPO/Syafiul Hadi


JAMBI, MH – Selamat jalan saudaraku Trino Erwin ungkap Ir. Berlin Simarmata, MM. Trino Erwin merupakan  salah seorang korban tragedi Tsunami di Selat Sunda. Bagaikan halilintar di siang hari, berita Tsunami di Selat Sunda membuat hatiku kecut.

Saya baru saja selesai kebaktian siang di hari Minggu tanggal 23 Desember 2018 di HKBP Kebayoran Selatan. Selesai kebaktian, saya langsung  pulang, namun sebelum mobil saya jalankan, saya baca dulu berita di hp saya yang selama kebaktian saya matikan, ujar alumni ITB Bandung jurusan Teknik Elektro.

Betapa kagetnya saya membaca nama GM PLN  Unit Induk Transmissi Jawa Bagian Barat, saudara Trino Erwin ikut menjadi korban Tsunami Selat Sunda. Untuk memastikan kebenaran berita itu saya cepat pulang ke rumah. Saya tinggal di komplex Perumahan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Gandul.

Selain perumahan, disitu juga ada kantor PLN P2B dan PLN TJBB yang tadinya menjadi satu dalam wadah PLN P3B. Saya langsung menuju Posko dan benar berita itu , saya lihat sudah banyak keluarga korban di posko tersebut untuk memperoleh informasi.

Ingatan saya segera melambung kepada situasi pada  tahun 1983 / 1986. Saat itu saya sedang bertugas sebagai  Kepala PLN Sektor Kalikonto di Surabaya, ungkap pria kelahiran Desa Galungan  -  Simarmata Kabupaten Samosir ini.

Diceritakannya ketika menerima  seorang pegawai baru yang punya ijazah AhT atau lebih populer juga dengan sebutan D3. Pegawai baru  tersebut bernama Trino Erwin. Saya tugaskan untuk beberapa lama Job Training di Perusahaan Listrik Tenaga Air (PLTA)  Mendalan, Siman dan Selorejo. Kemudian dia dapat pengangkatan sebagai pegawai tetap.

Nasibnya baik, ada pembentukan Transmissi baru yaitu Transmissi Bojonegoro. Setelah melalui berbagai pertimbangan akan kemampuannya, saya usulkan ke Kantor Wilayah nama Trino Erwin  dan disetujui, jadilah dia saya lantik sebagai Kepala Transmissi Bojonegoro. Sesuai perkembangan organisasi saya pindah tugas ke Medan sebagai  Deputy Pemimpin Bidang Perencanaan.  

Ketika bertugas di Sumatera Utara  Medan  yang walaupun relative singkat namun  Ir. Berlin Simarmata telah berbuat yang terbaik di kampung halamannya. Berkat jasa Ir. Berlin Simarmata, Perusahaan Listrik Negara (PLN) dapat tersambung sampai ke Samosir setidaknya  ke Desa Simarmata.

Sektor Kalikonto dipecah menjadi Sektor Surabaya dipimpin pak Djuwarno dan Sektor Malang dipimpin pak Djoko Hastowo sedangkan PLTA Mendalan, Siman dan Selorejo saya serahkan kepada Sektor Brantas yang dipimpin oleh pak Misdi. Saya tidak lama tugas di Medan,hanya 2 tahun, lalu pindah tugas ke PLN Pusat sebagai KD. Dapat perumahan di komplex PLN Gandul.

Tidak lama saya ketemu lagi dengan  Trino Erwin  yang sudah menjadi Kepala Transmissi Gandul. Kami berpelukan, teringat perpisahan tempohari di Surabaya. Saya lama bertugas di PLN Pusat sebagai KD dan akhirnya sebagai KDiv dan pensiun.

Saya dengar Trino Erwin  pernah juga tugas di luar Jawa. Suatu saat saya sedang olah raga di komplex, saya ketemu Trino Erwin secara kebetulan. Dia melaporkan bahwa dirinya diangkat menjadi GM PLN TJBB dan PLN P2B punya GM sendiri.

Begitulah kehidupan berjalan tanpa terasa, saya menjalani masa pensiun dan dia masih sebagai GM itu. Tahun yang lalu, juga bagaikan halilintar, saya kehilangan istri, saat kami kebaktian mingguan di rumah jemaat HKBP di Bintaro, istri saya kena stroke dan seminggu kemudian istri kembali kepada penciptanya.

Saudara Trino Erwin menunjukkan rasa simpati yang mendalam, dia tugaskan 2 (dua) unit kendaraan untuk membantu keluarga saya  yang kebingungan karena semuanya mendadak. Selama 10 (sepuluh) hari saya dan keluarga mondar - mandir dari Gandul Cinere ke Rumah Sakit (RS) Premier Bintaro dan RD RSPAD. Kini saudaraku Trino Erwin juga terbaring di RS Premier Bintaro.

Kita tidak ada yang tau, kapan kita meninggalkan dunia yang fana ini. Itu hak prerogatif mutlak dari Sang Pencipta. Selamat jalan saudaraku. Kiranya Tuhan memberikan ketabahan yang luar biasa kepada keluarga yang ditinggal, secara khusus kepada istri dan putrinya yang juga masih dalam perawatan di RS karena  ikut jadi korban Tsunami Selat Sunda. Tuhan Maha Pengasih !!!. Amin. (MH – Fendi Sinabutar disalin dari WA. Punguan Simarmata dohot Boruna se Indonesia).



Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Majalah Holong | | Copyright © 2018. Majalah Holong -Media Komunitas Majalah Holong